PONTIANAK Warga Kalimantan Barat (Kalbar) diminta segera menunjukkan kesiagaan yang maksimal guna menyongsong potensi gangguan cuaca luar biasa. BMKG melalui pernyataannya memberi peringatan bahwa masa kemarau tertinggi di wilayah Bumi Khatulistiwa diperkirakan terjadi antara bulan Agustus sampai September 2026. Cuaca kemarau kali ini diduga akan menjadi lebih kering dan bertahan lebih lama dibandingkan dengan rata-rata, sehingga dapat meningkatkan bahaya seperti kebakaran hutan dan lahan (karhutla), juga masalah pasokan air bersih dalam skala luas.
Wakil Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa pergeseran musim kemarau telah dimulai menyebar ke beberapa daerah di Kalimantan sejak bulan Juni lalu. Tahapan awal ini diyakini sebagai pintu masuk menuju masa paling sulit dalam jangka waktu dua sampai tiga bulan mendatang. Peristiwa alami ini semakin berdampak parah karena ada potensi tetapnya anomaik iklim El Niño dengan tingkat sedang hingga kuat yang diperkirakan akan terus memengaruhi wilayah Indonesia hingga awal tahun 2027. Akibat langsung dari fenomena El Niño tersebut yaitu rendahnya pembentukan awan hujan, sehingga secara otomatis menyebabkan rentang waktu tanpa turun hujan yang cukup panjang.
Untuk Provinsi Kalimantan Barat, ancaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan cuaca yang terlalu panas. Ciri khas wilayah Kalbar yang memiliki banyak lahan gambut membuatnya mudah mengalami kebakaran hutan dan lahan saat suplai air dari alam menurun. Menurut peta terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, setidaknya terdapat lebih dari 300 lokasi potensi kebakaran yang sekarang diamati secara intensif di beberapa kabupaten maupun kota. Wilayah-wilayah tertentu yang sering dilanda karhutla dan menjadi prioritas utama dalam daftar merah meliputi Kabupaten Sambas, Kubu Raya, Kayong Utara, Sanggau, serta Sintang.
"Musim kemarau pada tahun ini diprediksi lebih kering serta berlangsung lebih lama dari keadaan biasanya," kata Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers mengenai perkembangan musim kemarau.
Akibat musim kemarau yang berkepanjangan, dampaknya pasti dirasakan langsung oleh aspek-aspek penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di daerah pegunungan serta wilayah rawa gambut. Penurunan intensitas hujan yang signifikan menyebabkan beberapa penduduk harus menempuh perjalanan lebih jauh hanya untuk mencari satu ember air minum. Dalam bidang pangan, tanaman perkebunan maupun lahan pertanian juga menghadapi risiko gagal panen karena saluran irigasi tradisional mulai mengering.
Bila kebakaran lahan tak terkendali, maka kabut tebal akibat asap pasti akan kembali menyerbu wilayah Kalimantan Barat. paparan asap hasil pembakaran tersebut dapat meningkatkan secara signifikan jumlah kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), di mana anak-anak dan lanjut usia menjadi golongan yang paling rentan. Mengingat pengalaman buruk pada tahun-tahun sebelumnya, kabut asap tebal bukan hanya membahayakan kesehatan masyarakat umum, tetapi juga mengganggu proses belajar-mengajar, mengacaukan jadwal penerbangan, bahkan memberi dampak negatif terhadap perekonomian lokal.
Menjawab ancaman serius tersebut, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa pemerintah pusat maupun daerah tidak berdiam diri. Beberapa strategi penanggulangan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, termasuk rencana pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), atau hujan buatan di wilayah Kalimantan Barat, yang akan dilakukan sesuai kondisi terkini dengan mengawasi perkembangan dinamika atmosfer.
Di sisi lain, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menekankan perlunya semua elemen pemerintahan daerah mengandalkan data prediksi cuaca tersebut sebagai pedoman utama dalam merancang langkah penanggulangan bencana. BMKG secara intensif memberikan dukungan kepada BPBD serta Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di berbagai wilayah agar siap sepenuhnya menjelang musim kemarau tinggi.
Banyak saran krusial sudah disampaikan, termasuk meminta sektor pertanian untuk merombak sistem tanam dengan memilih jenis tanaman yang tahan terhadap kekeringan, meningkatkan persediaan air bersih di wilayah perkotaan, serta menyempurnakan jalur pendistribusian air kepada masyarakat. BMKG juga berupaya memberi pemahaman pada masyarakat umum tentang pentingnya penggunaan air bersih secara bijaksana dan hemat, serta memintanya dengan sungguh-sungguh agar tidak ada kelompok mana pun yang melakukan pembukaan atau pembersihan lahan pertanian melalui cara dibakar. Diperlukan kesadaran bersama dari para warga sebagai benteng utama guna mengurangi risiko bencana kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. (*)
0 Komentar