ANTS - Kurs mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kemungkinan akan turun lagi dalam perdagangan hari Senin (29/6), menyusul penutupan yang naik 21 poin menjadi Rp 17.922 per dolar AS pada sesi Jumat (26/6).
Ahli ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah hari ini akan terpengaruh oleh suasana politik global di kawasan Teluk dan gempa bumi yang melanda Venezuela.
"Pada perdagangan (26/6), rupiah mengalami pergerakan naik turun tetapi akhirnya berakhir melemah di kisaran Rp 17.920 hingga Rp 17.960," kata Ibrahim dalam keterangannya yang diterima pada hari Senin (29/6).
Ibrahim menyebutkan bahwa pengangkutan minyak mentah melalui Selat Hormuz naik pekan ini mencapai angka tertinggi sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran bermula di bulan Februari setelah adanya kesepakatan damai yang memungkinkan kembali dibukanya rute laut itu, sedangkan ketegangan mengenai durasi pembukaan selat tersebut turut mendorong aktivitas perdagangan.
"Namun, jumlah total kendaraan masih jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata harian 125 kapal yang melintasi selat itu sebelum konflik 28 Februari berlangsung. Di sisi lain, gempa bumi yang terjadi di Venezuela pada hari Jumat juga memperburuk kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan," katanya.
Di samping itu, Kantor Analisis Ekonomi Amerika Serikat melaporkan bahwa inflasi harga konsumsi inti meningkat menjadi 3,4% secara tahunan pada bulan Mei dibandingkan dengan 3,3% pada bulan April. Dalam persentase per bulan, inflasi harga konsumsi inti tetap stabil di tingkat 0,3%. Sementara itu, inflasi harga konsumsi utama naik menjadi 4,1% YoY dari 3,8%, mencatatkan angka terbesar dalam setahun sejak April dan Oktober 2023.
Berdasarkan alat CME FedWatch, respons terhadap laporan PCE mengindikasikan sedikit pengurangan dalam probabilitas kenaikan tingkat bunga oleh The Fed pada tahun ini serta sedikit peningkatan peluang bahwa bank sentral akan menjaga suku bunga tetap stabil.
0 Komentar