Ants - Dalam kondisi hidup yang kian pesat dan penuh tantangan, sebagian besar orang merasa kedamaian jiwa adalah hal yang sukar diraih. - Saat ini, dengan segala kesibukan dan beban yang ada, banyak individu menilai ketenangan hati sebagai sesuatu yang mustahil diperoleh. - Banyak orang berpikir bahwa kedamaian dalam diri menjadi hal yang susah untuk didapatkan di tengah arus kehidupan yang serba cepat dan melelahkan. - Kehidupan yang semakin dinamis serta penuh tekanan membuat beberapa orang menyebut ketenangan batin sebagai sesuatu yang hampir tidak mungkin tercapai.
Banyak dari kita mengira bahwa perdamaian baru akan diraih setelah segala persoalan terselesaikan, saat situasi finansial menjadi lebih baik, atau ketika seluruh orang di sekeliling kita bersikap ramah terhadap kita.
Namun, psikologi kontemporer mengungkapkan bahwa kedamaian jiwa bukan saja dipengaruhi oleh hal-hal yang kita punya, tapi juga oleh apa yang telah kita tinggalkan.
Secara tidak sadar, banyak orang memikul beban psikologis yang secara terus-menerus menghabiskan energi emosional harian mereka. Beban ini bisa berupa cara berpikir, kebiasaan, atau standar hidup yang sebenarnya sudah tidak memberikan manfaat lagi. Makin lama dibiarkan, makin sulit bagi seseorang untuk merasakan kedamaian yang nyata dan dalam.
Menurut laporan Expert Editor hari Senin (8/6), jika Anda ingin menciptakan kedamaian hati yang lebih tahan lama, berikut delapan hal yang sebaiknya Anda hentikan sesuai dengan beberapa prinsip psikologi.
1. Keinginan terus-menerus untuk Memperoleh Persetujuan dari Orang Lain
Salah satu penyebab stres yang paling besar ialah keinginan untuk senantiasa disenangi dan diterima oleh siapa saja.
Di dalam psikologi, perbuatan ini umumnya berkaitan dengan keinginan akan pengakuan dari luar. Bila rasa percaya diri sangat dipengaruhi oleh pendapat orang lain, kondisi emosi cenderung berubah-ubah sesuai dengan pandangan yang ada di lingkungan sekitar.
Kemungkinan Anda merasakan kebahagiaan ketika mendapatkan pujian, namun terluka saat menghadapi kritikan atau penolakan.
Kenyataannya, tidak ada seseorang pun yang mampu membuat semua orang bahagia. Bahkan para tokoh terkenal dan dihormati di seluruh dunia juga pasti mempunyai kritikus.
Kedamaian hati perlahan berkembang saat Anda memahami bahwa harga diri Anda bukan diukur dari banyaknya orang yang setuju dengan pilihan hidup Anda.
2. Kecenderungan Mengadukan Diri Terhadap Orang Lain
Sosial media memudahkan orang untuk melakukan perbandingan dengan sesama manusia dibandingkan dahulu.
Kita sering memperhatikan keberhasilan, cuti, karir, tempat tinggal, atau hubungan orang lain, kemudian secara tidak sengaja menilai kualitas hidup kita dengan patokan yang sama.
Para psikolog menggambarkan peristiwa ini dengan istilah social comparison. Pada berbagai situasi, kebiasaan untuk selalu membandingkan diri sendiri bisa membuat rasa puas dalam hidup menjadi turun serta meningkatkan tingkat kekhawatiran.
Yang sering kali diabaikan ialah fakta bahwa kita cenderung membandingkan hidup kita sendiri dengan kondisi terbaik dari kehidupan orang lain.
Tiap individu mempunyai jalur, rintangan, serta masa pencapaian yang berbeda-beda. Saat kamu mengalihkan perhatian dari kehidupan orang lain dan mulai menitikberatkan pada perkembangan diri sendiri, pikiran akan terasa jauh lebih damai.
3. Menyesali masa lalu
Merenungkan kekeliruan di masa lampau dapat berfungsi sebagai alat untuk belajar. Tetapi, tetap tinggal dalam rasa menyesal hanya akan menyebabkan penghabisan tenaga pikiran.
Berbagai studi psikologis mengungkapkan bahwa perenungan berlebihan terhadap kesalahan-kesalahan yang sama sering dikaitkan dengan tingkat tekanan mental, rasa cemas, serta gangguan depresif yang lebih besar.
Yang telah terjadi tidak bisa dirubah, namun nilai yang diperoleh dari pengalaman itu mampu membantu menyempurnakan masa depan.
Orang dengan kedamaian jiwa umumnya tidak sering meragukan diri sendiri dengan pertanyaan seperti, "Mengapa dulu saya melakukannya?" Mereka cenderung lebih fokus pada pertanyaan, "Apa yang dapat saya petik dari pengalaman itu?"
Pergeseran pandangan ini mendorong seseorang untuk melangkah maju tanpa selalu tertaut pada kekhilafan masa lalu.
4. Kebutuhan Untuk Memegang Kendali Atas Semua Hal
Banyak orang merasa nyaman saat mampu memegang kendali atas semua hal dalam hidup mereka. Namun, fakta sering kali tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Banyak hal yang tidak dapat kita kendalikan: iklim, keputusan orang lain, situasi ekonomi, serta sejumlah kejadian tak terduga dalam kehidupan.
Bila seseorang terus-menerus mencoba memegang kendali atas hal-hal yang pada dasarnya tidak dapat dikontrol, rasa frustasi dan tekanan emosional biasanya semakin bertambah.
Psikologi menekankan betapa pentingnya memahami perbedaan antara sesuatu yang dapat kita kendalikan dan yang tidak.
Keenaman terjadi saat energi kita diarahkan ke tindakan yang dapat dikendalikan, bukan pada hasil yang sama sekali bergantung kepada kondisi luaran.
5. Perfeksionisme yang Berlebihan
Usaha untuk menyajikan sesuatu yang terbaik merupakan sikap yang baik. Tetapi, keinginan berlebihan akan kesempurnaan seringkali menimbulkan rasa sakit.
Para individu yang memegang prinsip kesempurnaan biasanya menentukan standar yang sangat ketat bagi diri mereka sendiri. Mereka menganggap bahwa prestasi yang bagus masih kurang jika tidak mencapai tingkat sempurna.
Sebagai akibatnya, mereka cenderung lebih cepat merasa kecewa, lelah, serta kurang puas.
Psikolog menyebutkan bahwa sifat perfeksionis yang terus-menerus dikaitkan dengan meningkatnya tingkat tekanan mental, rasa cemas, serta kelelahan batin.
Mengakui bahwa ketidaktuntasan merupakan hal wajar dalam hidup bisa memungkinkan seseorang merasakan perjalanan hidupnya tanpa selalu dihimpit oleh harapan yang tidak masuk akal.
6. Permusuhan dan Rasa Benci yang Terus Menerus
Menjaga rasa sakit seringkali tampak sebagai cara untuk melindungi diri sendiri. Kita merasa bahwa dengan selalu mengingat kesalahan orang lain, kita bisa mencegah cedera yang sama terulang kembali.
Namun, dari segi psikologi, rasa benci yang terus-menerus dijaga justru cenderung merugikan diri sendiri.
Tiap kali kita memperbarui perasaan kesal di benak, tubuh bereaksi seakan kejadian itu sedang berlangsung kembali.
Hal ini bisa memperburuk rasa stres serta mengganggu keadaan mental seseorang.
Meminta maaf tidak berarti menganggap perbuatan buruk itu benar. Memaafkan artinya melepas beban emosi yang telah Anda bawa selama ini.
Banyak kali, individu yang paling meraih manfaat dari proses mengampuni adalah diri kita sendiri.
7. Kekhawatiran Berlebihan Mengenai Masa Mendatang
Mempersiapkan masa depan merupakan sesuatu yang sangat diperlukan. Tetapi, terlalu khawatir tentang kejadian yang masih belum terwujud bisa membuat kenyamanan di saat sekarang hilang.
Psikolog menyatakan bahwa rasa cemas biasanya timbul akibat pikiran yang selalu mengarah pada potensi-potensi buruk yang tidak pasti akan terjadi.
Sebagai akibatnya, seseorang membuang tenaga pikiran dalam menghadapi situasi yang kemungkinan besar tak akan terjadi.
Seseorang yang lebih damai tidak berarti bebas dari ketakutan. Mereka hanya saja tidak memperbolehkan rasa takut itu mendominasi kehidupan mereka.
Mereka melakukan persiapan yang dibutuhkan, kemudian menyadari bahwa tidak semuanya bisa diprediksi secara sempurna.
8. Identitas Lama yang Tidak Lagi Cocok
Banyak orang mengalami keterikatan pada citra diri yang telah kehilangan maknanya saat ini.
Terkadang Anda mungkin pernah mengalami kegagalan dalam hidup dan terus merasa diri sendiri adalah seorang yang gagal. Mungkin saja Anda pernah ditolak dan tetap yakin bahwa Anda belum layak.
Sebenarnya, manusia selalu mengalami perkembangan dan perubahan.
Psikologi perkembangan mengungkapkan bahwa identitas tidak bersifat tetap. Bagaimana kita memandang diri sendiri bisa berbeda seiring dengan pengalaman, proses belajar, serta pematangan diri.
Agar mendapatkan kedamaian jiwa yang lebih mendalam, kadang-kadang kita harus meninggalkan kisah lamamu mengenai siapa dirimu sebenarnya.
Kamu bukan sekadar himpunan dari kesalahan, kegagalan, atau luka di masa lampau. Kamu merupakan seseorang yang senantiasa berkembang setiap harinya.
Penutup
Kedamaian hati yang terus-menerus tidak selalu didapat dengan memperbanyak sesuatu di dalam kehidupan. Terkadang, kedamaian justru hadir saat kita berani meninggalkan hal-hal yang sudah tak berguna lagi.
Menghilangkan keinginan untuk mendapatkan otorisasi dari orang lain, berhenti melakukan perbandingan dengan orang lain, menekan rasa penyesalan, menerima apa yang tak bisa diubah, menjauhi kesempurnaan berlebihan, memberi maaf, mengurangi ketakutan terhadap masa depan, dan melepaskan identitas lama yang menyebabkan batasan pada diri sendiri merupakan tindakan-tindakan yang mampu menciptakan perubahan signifikan dalam tingkat kesejahteraan hidup.
Proses ini pasti tidak berlangsung dalam sekejap. Namun tiap tindakan kecil yang dilakukan untuk menghilangkan beban emosional yang tak diperlukan akan menciptakan ruang bagi ketenangan, keterbukaan pikiran, serta kebahagiaan yang lebih asli.
Akhirnya, kedamaian jiwa bukanlah sesuatu yang harus dikejar dengan susah payah. Ia berkembang secara alami saat kita menghentikan beban-bebanan yang sejatinya tak lagi perlu kita tanggung.
0 Komentar