Editors Choice

3/recent/post-list

Pengikut

Warga Tolak Agam Rinjani Masuk Gunung Rinjani, Sindir Donasi Juliana: Jangan Pencitraan

Ringkasan Berita:
  • Pada masa lalu, seorang pria yang memiliki nama lengkap Abdul Haris Agam terkenal setelah berhasil menyelamatkan jenazah seorang pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dari tebing dengan kedalaman 600 meter.
  • Sekarang ini, Agam Rinjani dan Panji Petualang akan berkunjung ke Gunung Rinjani guna memperingati satu tahun proses penyelamatan Juliana Marins.
  • Namun, penduduk malah menunjukkan pandangan yang berlainan.

ANTS Permintaan Agam Rinjani untuk mendaki Gunung Rinjani bersama kreator konten bernama Panji Petualang mengundang perlawanan dari masyarakat setempat.

Pada masa lalu, seorang pria dengan nama lengkap Abdul Haris Agam terkenal setelah berhasil menyelamatkan jenazah seorang pendaki asal Brazil, Juliana Marins, dari tebing yang dalamnya mencapai 600 meter.

Sekarang ini, Agam Rinjani dan Panji Petualang akan berkunjung ke Gunung Rinjani guna memperingati satu tahun proses penyelamatan Juliana Marins.

Namun, penduduk malah menunjukkan pandangan yang berlainan.

Panitia Pariwisata Lintas Rinjani dengan jelas menunjukkan ketidaksetujuannya.

Ternyata masyarakat mengeluh tentang dana sumbangan serta gelar pawang Rinjani yang diberikan kepada Agam.

Perdebatan tentang Dana Sumbangan dan Gelar Tukang Ramal Rinjani

Tolakannya muncul setelah Agam merencanakan untuk kembali ke Gunung Rinjani bersama seorang kreator konten terkenal bernama Panji Petualang.

Kunjungan itu seharusnya bertujuan untuk memperingati satu tahun proses penyelamatan Juliana Marins. Namun, Forum Pariwisata Lintas Rinjani dengan tegas menyampaikan penolakan.

Kepala Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, menyampaikan bahwa penolakan ini berlandaskan isu tentang pengelolaan dana bantuan setelah evakuasi Juliana yang dinilai kurang jelas dan tidak terbuka.

Banyak komitmen dan hutang yang masih tertunda penyelesaiannya, khususnya mengenai sumbangan dari Juliana. Jangan sampai kunjungannya ke Rinjani malah berubah menjadi momentum untuk membangun citra semata di tengah permasalahan yang belum selesai," kata Royal.

Selain permasalahan keuangan, pemberian gelar Pawang Rinjani kepada Agam turut memicu kemarahan para tokoh adat.

Berdasarkan pendapat Mertawi, tokoh adat dari Sembalun, gelar ini mempunyai arti yang suci dalam kepercayaan masyarakat sekitar dan tidak boleh diserahkan dengan asal-asalan.

"Mengacu pada kepercayaan kami, terutama bagi mereka yang tinggal sekitar Gunung Rinjani, tidak mudah untuk mengklaim diri menjadi Pawang Rinjani," tegas Mertawi.

Panji Petualang Memohon Maaf

Ketegangan yang terjadi akhirnya memaksa Panji Petualang untuk memberikan keterangan secara langsung.

Melaui akun Instagram miliknya, Panji memberikan permohonan maaf secara langsung kepada warga Lombok. Ia mengatakan bahwa ia belum tahu tentang masalah lama yang terkait dengan teman mendakinya, sehingga unggahan itu memicu respons dari beberapa pihak.

"Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh keluarga saya di Lombok. Terutama bagi semua pihak yang merasa terluka atau tersinggung akibat unggahan saya," tulis Panji lewat akun @panjipetualang_real.

Panji mengatakan bahwa ia merasa belum sepenuhnya memahami latar belakang budaya lokal ketika menggunakan kata "Pawang Rinjani" dalam karyanya. Ia menyebut peristiwa ini sebagai kesalahan dan bukan bermaksud melukai siapa pun.

Perjalanan Hidup Agam Rinjani

Selain dari perselisihan yang tengah berlangsung, Agam Rinjani diakui memiliki riwayat kehidupan yang dipenuhi dengan usaha dan pengorbanan.

Agam dilahirkan di Kota Makassar tanggal 22 Desember tahun 1988. Dari usia muda, dia telah berkontribusi dalam mendukung keluarga dengan bekerja sebagai pembuang sampah di TPA Antang.

Kemauan untuk selalu belajar akhirnya mendorongnya melanjutkan studi pada program Studi Antropologi di Universitas Hasanuddin (Unhas). Selama menempuh kuliah, ia memperdalam minat dalam kegiatan pendakian serta mengasah keterampilan pertolongan darurat melalui organisasi Korpala Unhas.

Setelah menetap di Sembalun, Lombok Timur, Agam menghabiskan waktunya sebagai panduan pendakian, pembawa barang, dan relawan yang turut serta dalam berbagai misi pertolongan di area Gunung Rinjani.

Selama beberapa tahun melakukan aktivitas di gunung itu, Agam diketahui sudah sampai ke puncak Rinjani lebih dari 350 kali. Ia juga dikenal ikut serta dalam sekitar 70 persen proses penyelamatan di area tersebut, termasuk operasi penyelamatan vertikal yang mempunyai tingkat bahaya besar.

Agam mulai terkenal setelah tim sukarelawannya mampu mengelola pengambilan jasad Juliana Marins pada bulan Juni tahun 2025.

Berkat pengabdiannya serta keberaniannya dalam menjalankan tugas kemanusiaan, Agam akhirnya memperoleh apresiasi dari pihak pemerintah lewat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

(Surya.co.id/Tribunnews.com/ANTS)

Posting Komentar

0 Komentar