Ants.CO.ID, JAKARTA — Profesor dari Universitas Norges Teknisk-Naturvitenskapelige, Glenn Diesen, mengingatkan bahwa serangan ke wilayah Rusia tidak akan membuat Moskow mundur dalam perselisihan mereka melawan Ukraina. Ia meyakini tindakan ini malah bisa memperburuk ketegangan antara Rusia dan negara-negara barat.
Pada wawancara yang ditayangkan melalui channel YouTube Judging Freedom beberapa bulan silam, Diesen menyampaikan bahwa berbagai kelompok di dunia barat sering kali memandang penyerbuan terhadap daerah Rusia sebagai indikasi lemahnya posisi Moscow. Namun, dia merasa pendapat ini tidak selaras dengan situasi nyata di medan perang.
"Seringkali orang berpikir bahwa jika Rusia menghadapi kesulitan, maka mereka pasti akan kalah. Tapi, Rusia mampu bertahan terhadap tekanan tanpa perlu mundur," ujar Diesen.
Dia menyampaikan, kondisi sekarang malah berpotensi memicu peningkatan ketegangan yang lebih parah. Baginya, harapan bahwa Rusia akan mundur karena serangan-serangan itu tidak masuk akal.
Mereka juga menyatakan bahwa negara-negara Barat sudah melewati beberapa batasan dalam usaha untuk membujuk serta memicu Rusia. Meskipun demikian, ia berargumen bahwa tindakan-tindakan ini belum mampu mengganti posisi strategis Moscow.
Di sisi lain, perwakilan Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menyampaikan kritik terhadap langkah Uni Eropa dalam tetap memberikan dana pendukung bagi pemerintahan Ukraina yang dipimpin oleh Presiden Volodymyr Zelenskyy. Baginya, tindakan ini mencerminkan fakta bahwa negara-negara Eropa masih belum menjadikan perdamaian sebagai prioritas utama dalam konflik tersebut.
Pihak pemerintah Rusia seringkali menyampaikan bahwa suplai persenjataan dari barat ke Ukraina tidak akan mampu merubah arah pertikaian tersebut, tetapi justru membuat perang semakin lama. Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, juga menekankan bahwa pengiriman senjata ke Ukraina akan dipandang sebagai sasaran yang sah oleh angkatan bersenjata Rusia.
Perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung sejak bulan Februari 2022 masih menjadi penyebab ketegangan antara Moscow dengan negara-negara barat. Beberapa negara anggota NATO serta Uni Eropa sampai saat ini tetap menyediakan bantuan militer atau dana bagi Ukraina, sedangkan Rusia merasa bahwa dukungan itu justru memperparah perang dan menghalangi proses perdamaian.
Daya Tahan Rusia
Beberapa analis menyatakan bahwa Rusia memiliki beberapa keuntungan struktural yang menjadikan negara ini sukar dikalahkan dengan cara ditekan secara militer atau ekonomi. Hal-hal tersebut termasuk wilayah yang sangat luas, kelimpahan sumber daya alami, kemampuan angkatan bersenjata, dan pengalaman historis dalam menghadapi perang yang berlarut-larut.
Rusia adalah negara paling luas di dunia, mencakup area yang meliputi bagian timur Eropa sampai samudra pasifik. Wilayahnya yang sangat luas menawarkan kedalaman strategis yang signifikan, menjadikannya lebih sukar untuk dikalahkan dibandingkan negara-negara berukuran lebih kecil.
Di samping itu, Rusia mempunyai cadangan energi serta sumber daya alami yang melimpah. Sebagai salah satu penghasil utama minyak, gas alam, dan beberapa barang kebutuhan global, Moskow tetap memiliki sumber pendapatan yang cukup besar meski sedang menghadapi sejumlah larangan ekonomi dari negara-negara barat.
Dalam ranah militer, Rusia masih diakui sebagai salah satu negara dengan kemampuan angkatan bersenjata paling besar di dunia. Negeri ini mempunyai pasukan senjata tradisional dalam volume yang sangat banyak, sistem pertahanan yang tangguh, dan cadangan rudal nuklir yang membuatnya setara dengan Amerika Serikat sebagai pemain utama dalam skala internasional.
Faktor lain yang sering menjadi perhatian ialah pengalaman sejarah Rusia dalam menghadapi konflik skala besar. Pada masa modern, Rusia pernah menghadapi penjajahan Napoleon di abad kesembelas belas serta agresi Jerman Nazi selama Perang Dunia Kedua. Di tengah dua insiden ini, Rusia berhasil bertahan walaupun dengan biaya penderitaan yang sangat tinggi.
Rasionalitas historis ini menciptakan persepsi bahwa masyarakat serta pemerintah Rusia mempunyai kemampuan bertahan kuat menghadapi ancaman dari luar. Oleh karenanya, beberapa pakar berpendapat bahwa keyakinan bahwa Rusia akan menyerah hanya akibat penyerbuan di wilayahnya atau tekanan ekonomi singkat adalah anggapan yang terlalu mudah.
Namun demikian, para analis juga menegaskan bahwa ketahanan tersebut bukan berarti Rusia aman dari akibat perang. Perperangan yang memakan waktu masih menyebabkan dampak ekonomi, sosial, serta politik yang signifikan bagi seluruh pihak terkait, termasuk Rusia itu sendiri.
Ancaman Pertikaian Langsung antara Rusia dan Pakta Atlantik Utara?
Peningkatan serangan terhadap area Rusia menimbulkan ketakutan baru dari para analis keamanan global, yaitu potensi konflik langsung antara Rusia dengan NATO. Meskipun saat ini alianansi itu belum secara resmi ikut serta dalam peperangan, bantuan militer yang terus-menerus diberikan kepada Ukraina menyebabkan ketegangan meningkat antara Moscow dan negara-negara anggota NATO.
Setelah perang meletus bulan Februari 2022, Amerika Serikat serta beberapa negara Eropa memberikan bantuan senjata modern ke Ukraine, mencakup sistem pertahanan udara sampai dengan roket jarak jauh. Rusia sering mengklaim bahwa bantuan ini membuat NATO ikut campur dalam konflik secara tidak langsung.
Tensi kian tinggi saat serangan pesawat tak berawak dan roket Ukraina mulai mencapai area yang jauh di dalam wilayah Rusia. Moscow merasa bahwa pemanfaatan senjata dari barat dalam operasi seperti ini bisa menyebabkan peningkatan konflik yang tidak diharapkan, terlebih jika serangan tersebut dinilai membahayakan kepentingan strategis Rusia.
Ahli-ahli menganggap ancaman utama tidak berasal dari kebijakan politik yang sengaja dipilih untuk melakukan peperangan, tetapi justru dari potensi kesalahan dalam pengambilan keputusan atau kejadian tak terduga yang muncul tanpa kontrol. Di tengah kondisi persaingan yang semakin rumit, suatu serangan, keliruan penentuan sasaran, atau peristiwa militer bisa memicu tanggapan yang lebih besar dari kedua belah pihak.
Di pihak lain, negara-negara anggota NATO tetap menekankan bahwa mereka tidak ingin terlibat dalam konflik langsung dengan Rusia. Pemimpin-pemimpin barat secara berkala menyampaikan dukungan bagi Ukraina demi menjaga keutuhan wilayah negara itu, bukan untuk memicu peperangan antara NATO dan Rusia.
Namun demikian, jalur diplomatik antara Moscow dengan barat sedang mengalami tingkat paling rendah sejak beberapa dekade belakangan. Keadaan ini menjadikan saluran komunikasi darurat lebih penting lagi guna menghindari salah pengertian yang bisa memicu perluasan perselisihan.
Oleh karena itu, sejumlah analis melihat setiap meningkatnya serangan terhadap area Rusia sebagai situasi yang harus diperhatikan. Makin tinggi tingkat ketegangan di garis depan, makin besar juga kemungkinan konflik Ukraina berubah menjadi krisis keamanan yang lebih luas dengan dampak menyeluruh.
Mengapa negara-negara barat terus menyuplai senjata kepada Ukraina?
Amerika Serikat beserta beberapa negara Eropa masih menjadi pihak utama yang mendukung Ukraina dalam menghadapi serangan dari Rusia. Bantuan ini dilakukan dengan memberikan dukungan militer, finansial, latihan bagi angkatan bersenjata, serta menyediakan beragam senjata yang jumlahnya telah mencapai miliaran dolar sejak konflik meletus tahun 2022 lalu.
Untuk negara-negara barat, bantuan terhadap Kiev dianggap sebagai langkah untuk menjaga kemerdekaan serta keseluruhan wilayah Ukraina. Pemimpin-pemimpin dari barat sering menyatakan bahwa pengubahan batas-batas wilayah dengan cara paksa militer tidak seharusnya menjadi contoh yang dapat diterima dalam sistem internasional.
Selain faktor politik dan keselamatan, berbagai negara anggota NATO menganggap dampak dari konflik di Ukraina akan berpengaruh pada ketenangan wilayah Eropa secara menyeluruh. Apabila Rusia meraih manfaat strategis yang besar, beberapa negara di Eropa Timur cemas tekanan ancaman terhadap daerah mereka akan semakin tinggi.
Amerika Serikat memberikan dukungan kepada Ukraina sebagai bagian dari upaya untuk memelihara kekuasaannya di Benua Eropa serta meyakinkan kredibelitas aliansi barat. Oleh karena itu, Washington tetap menjadi pemimpin dalam penyediaan berbagai bentuk bantuan militer yang selanjutnya ditiru oleh negara-negara mitranya.
Di pihak lain, pendukung bantuan militer mengemukakan bahwa henti mendadak dari suplai senjata bisa melemahkan daya tahan Ukraina. Mereka merasa bantuan ini penting agar Kiev tetap mempertahankan kekuatan negosiasi dalam segala bentuk pembicaraan perdamaian yang mungkin terjadi nanti.
Namun, kebijakan ini tetap mendapat pengkritikan. Beberapa kelompok di Eropa maupun Amerika melihat bahwa bantuan yang terus-menerus diberikan memiliki potensi untuk memperpanjang perkonfrontasian serta meningkatkan risiko peningkatan ketegangan dengan Rusia. Kritik pula datang karena besarnya biaya yang harus dipenuhi oleh negara-negara pendonor dalam situasi tantangan ekonomi internal mereka sendiri.
Persoalan ini menjadikan masalah bantuan militer bagi Ukraina tetap menjadi salah satu isu paling rentan dalam dunia politik global. Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, Barat sepertinya masih melihat pendukungannya terhadap Kiev sebagai komponen utama dalam upaya menghadapi Rusia serta melestarikan keseimbangan stabilitas di Benua Eropa.
Usaha-usaha untuk mencapai perdamaian yang masih belum menemui solusi Kegiatan-kegiatan upaya perdamaian yang tidak kunjung mendapatkan jalan keluar Inisiatif-inisiatif damai yang belum berhasil ditempuh jalannya Langkah-langkah penyelesaian konflik yang belum memperoleh titik terang Pembicaraan-pembicaraan tentang perdamaian yang belum menghasilkan hasil nyata
Dalam tengah persaingan sengit yang masih berlangsung, beberapa usaha diplomatis dari berbagai negara serta lembaga global telah diupayakan guna menyelesaikan konflik antara Rusia dan Ukraina. Akan tetapi sampai saat ini, tidak ada satupun langkah yang mampu mencapai perdamaian yang disetujui oleh kedua belah pihak.
Di awal konflik, Rusia dan Ukraina melakukan berbagai sesi diskusi. Walaupun percakapan ini membuahkan beberapa kesepahaman di bidang kemanusiaan, negoisasi tidak berhasil memberikan solusi signifikan untuk masalah inti seperti status wilayah bersengketa, jaminan keamanan, serta arah hubungan Ukraina dengan NATO.
Beberapa negara lainnya juga mencoba menjalankan tugas sebagai penengah. Turki seringkali menyelenggarakan pertemuan antar kedua belah pihak serta berhasil mendukung pencapaian kesepakatan pengiriman biji-bijian melalui Laut Hitam. Meskipun demikian, hasil ini belum mendorong sebuah proses damai yang lebih menyeluruh.
Di sisi lain, sejumlah usulan damai dari negara-negara lain juga mengalami hambatan signifikan. Rusia dan Ukraina masih menjunjung pandangan yang jauh berbeda terkait kondisi penyelesaian konflik. Kiev menginginkan kembalinya keseluruhan wilayahnya, sedangkan Moscow bertekad untuk melindungi kepentingan strategis yang berhasil dicapainya selama perseteruan ini.
Bantuan militer dan dukungan politik dari negara-negara barat terhadap Ukraina serta meningkatnya ketegangan antara Rusia dengan blok barat ikut menyulitkan jalannya pembicaraan perdamaian. Di tengah situasi kepercayaan yang rendah, ruang untuk mencari titik temu makin berkurang.
Pengamat menganggap kemungkinan pencapaian damai dalam jangka pendek tetap sempit karena masing-masing pihak percaya bahwa targetnya bisa diraih lewat jalur militer. Oleh sebab itu, walaupun banyak upaya diplomasi yang dilakukan, konflik antara Rusia dan Ukraina sampai saat ini masih tidak menunjukkan indikasi akan segera usai.
0 Komentar