Editors Choice

3/recent/post-list

Pengikut

Gaji Guru Honorer Hanya Cukup Untuk Transportasi, Rentan Sebabkan Burnout

ANTS - Usaha meningkatkan kesejahteraan guru di Tanah Air nyatanya tidak cukup berfokus pada besaran angka dalam struk gaji saja.

Terdapat aspek penting yang sering kali tidak mendapatkan perhatian masyarakat luas, yaitu akses serta pengeluaran untuk keperluan transportasi sehari-hari para guru dari tempat tinggal mereka menuju ruangan kelas.

Kurangnya ketersediaan transportasi di berbagai wilayah dianggap sebagai salah satu penyebab utama yang membuang-buang tenaga fisik, pikiran, serta uang saku dari para pekerja tak terkenal ini.

Dosen Program Studi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegija Pranata serta Anggota Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menyampaikan bahwa aspek mobilitas harian berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan para pendidik.

Ia menyatakan bahwa kendala dalam transportasi semakin membebani para guru tetapi berpenghasilan rendah serta mereka yang bertugas di daerah 3TP (Terpencil, Paling Depan, Paling Luar, dan Perbatasan).

Biaya transportasi menghabiskan hampir separuh penghasilan seseorang Kebutuhan akan biaya angkutan memakan sebagian besar pendapatan Tarif transportasi menyedot sekitar setengah gajihnya Pengeluaran untuk transportasi mencakup nyaris separuh pemasukan bulanan Sekitar setengah dari upah digunakan sebagai biaya perjalanan

Untuk para guru di daerah perkotaan, hilangnya layanan transportasi publik yang terpadu menyebabkan mereka harus mengandalkan mobil sendiri atau jasa ojek daring.

Sebagai akibatnya, biaya bulanan untuk bahan bakar serta pemeliharaan mobil meningkat secara signifikan.

"Tenaga honor yang menerima penghasilan antara Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta setiap bulannya harus membelanjakan 20 persen hingga 40 persen dari upahnya hanya untuk biaya transportasi seperti bahan bakar minyak atau layanan ojek daring apabila sekolah tempat kerja mereka tidak dapat diakses melalui kendaraan umum," kata Djoko, Senin (29/6).

Situasi yang jauh lebih parah dialami oleh guru-guru di wilayah kepulauan seperti Maluku, Maluku Utara, maupun Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kurangnya jumlah kendaraan mengakibatkan biaya angkutan lokal meningkat tajam. Dalam menjalankan tugas, guru-guru sering kali harus menyewa perahu cepat atau kendaraan darat khusus yang menghabiskan lebih dari 50 persen insentif wilayah terpencil mereka.

Kegelapan Di Jalanan Mempengaruhi Kualitas Pengajaran

Selain dampak keuangan, sisi mental para guru juga terancam. Macet yang sangat parah di perkotaan dan jalur berat di daerah pelosok menghabiskan tenaga guru sejak subuh hari.

Jalan-jalan yang melelahkan menyebabkan para guru mudah merasakan kelelahan emosional ketika sampai di sekolah.

Jika keadaan tubuh sudah lemah sebelum memasuki kelas, mutu penyampaian pengetahuan pasti akan terpengaruh.

Kemampuan bersabar saat mendidik murid dan kekayaan imajinasi dalam merancang bahan pelajaran secara alami mengalami penurunan.

Sebagai akibatnya, transportasi yang terjamin keamanan dan keterandalannya merupakan jaminan wajib agar para guru dapat mengajar dengan kondisi optimal.

Pertaruhan Hidup dalam Jalur Ekstrem dan Kesenjangan Kualitas Taruhannya Jiwa pada Jalan Berbahaya serta Perbedaan Standar Mutu Resiko Nyawa di Tengah Trek Ekstrim dan Ketidakseimbangan Kualitas Keselamatan yang Dipertaruhkan Di Jalanan Ekstrem dan Disparitas Mutu Permainan Taruhan Hidup Melalui Rintangan Ekstrem dan Variasi Kualitas

Sampai kini, penderitaan tetap menghiasi kehidupan para guru di daerah terpencil Nusantara. Untuk memajukan generasi bangsa, banyak dari mereka yang rela melewati sungai berarus kuat menggunakan perahu sederhana.

Beberapa di antaranya juga terpaksa melewati jalanan yang sangat rusak dan membahayakan nyawa. Perasaan cemas yang selalu hadir secara bertahap mulai memengaruhi kualitas kehidupan mereka.

Akibat berantai dari keterbatasan akses tersebut ialah semakin membesarnya kesenjangan dalam kualitas pendidikan.

Pemerintah sering mengalami kendala dalam menyalurkan para guru berkualitas ke kawasan terpencil akibat kondisi geografis yang membatasi akses.

Di sisi lain, wilayah dengan koneksi angkutan harian, baik melalui darat, laut, atau udara, cenderung lebih mampu menahan tenaga pengajar berkompetensi sehingga tetap menjalani tugas mereka.

Diperlukan Tarif Khusus untuk Pengangkutan dan Jasa Transpor Perintis

Mengingat tingkat kesulitan permasalahan tersebut, Djoko menyarankan pemerintah agar secepatnya melakukan tindakan pengaruh dengan menggunakan kebijakan yang menyeluruh.

Kesejahteraan para pendidik perlu dipandang sebagai suatu sistem lingkungan yang utuh dan seimbang. tidak hanya terbatas pada upah saja, tetapi juga melibatkan berbagai aspek lainnya.

"Penyediaan subsidi pengangkutan umum di kawasan perkotaan dengan harga khusus untuk para pendidik, serta peningkatan jaringan angkutan awal di daerah pulau-pulau dan 3TP merupakan tindakan nyata dari pemerintah," katanya.

Menghargai profesi guru ternyata tidak cukup hanya dengan memberi janji kenaikan gaji yang tertulis saja.

Pemerintah harus hadir untuk mempercepat akses pergerakan penduduk guna mencapai efisiensi ekonomi serta kenyamanan dalam bekerja.

Karena itu, perjuangan panjang dalam menerangi kecerdasan bangsa harus dimulai dengan memastikan mereka yang mengantar (guru) dapat sampai di ruang kelas dengan wajah tersenyum dan penuh semangat.

Posting Komentar

0 Komentar