Editors Choice

3/recent/post-list

Pengikut

11 Kebiasaan Finansial Orang Berpenghasilan Tinggi Tapi Tetap Miskin

Ants - Psikologi keuangan mengungkapkan bahwa mempunyai dana besar belum tentu membuat seseorang terlepas dari pola perilaku keuangan yang menyebabkannya tetap dalam kondisi keuangan sulit.

Ketidaksempurnaan financial yang masih tertinggal dari masa lalu secara bawah sadar terus berpengaruh pada bagaimana seseorang mengatur duit serta menentukan pilihan-pilihan ekonomi sehari-hari.

Seseorang yang tetap hidup dalam kemiskinan meskipun penghasilannya besar umumnya memiliki kebiasaan keuangan khusus yang dapat diketahui dan diubah melalui kesadaran yang benar.

Dilansir dari laman YourTango Pada hari Kamis (11/6), berikut adalah sebelas kebiasaan keuangan yang secara teratur dipunyai oleh orang-orang yang masih miskin meskipun pendapatan mereka sesungguhnya sudah memadai.

1. Tidak memiliki target finansial yang pasti

Tanpa adanya peta perencanaan keuangan yang jelas, seseorang bisa tetap berada dalam lingkaran hidup di mana uang diperoleh dari gaji ke gaji, walaupun pendapatannya sesungguhnya telah cukup untuk memenuhi keperluan dasar.

Ahli-ahli dari Universitas Chicago menyarankan pedoman anggaran 50/20/30, di mana 50% digunakan untuk pengeluaran wajib, 20% untuk simpanan dan cicilan hutang, serta 30% untuk keperluan pribadi atau keinginan.

2. Pengelolaan keuangan yang tidak rapi dan kurang terstruktur

Seseorang yang tidak memiliki keteraturan sering kali tidak paham jumlah kekayaannya sendiri dan terus-menerus membelanjakan uang untuk hal-hal yang ingin mereka dapatkan tanpa adanya kesadaran akan kondisi keuangan.

Mengawasi pengeluaran serta menyusun anggaran merupakan tahap awal yang membantu seseorang mendapatkan kendali riil terhadap keuangan mereka di masa depan.

3. Kesulitan dalam menentukan batas keuangan

Mengeluarkan lebih banyak daripada kemampuan keuangan yang ada karena takut menentukan batasan justru membuat kantong kosong dan memicu rasa benci di dalam hubungan.

Pelatih keuangan Kylie Lipinski menyampaikan bahwa batasan keuangan merupakan batas yang bertujuan untuk menjaga kondisi ekonomi serta membantu seseorang dalam menetapkan prioritas hidupnya.

4. Dipenuhi oleh rasa cemas financial yang terlalu berlebihan

Ketakutan akan kondisi keuangan terkadang timbul dalam bentuk penyangkalan, misalnya dengan menunda pembukaan tagihan atau membiarkan saldok account tidak diperhatikan karena takut menghadapi fakta yang sebenarnya.

Cheryl Gerson, seorang pekerja sosial klinis, menyampaikan bahwa uang tidak hanya berupa angka tetapi juga merupakan lambang kelangsungan hidup yang penuh dengan perasaan dan rasa cemas.

5. Menolak bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan finansial yang diambil sendiri

Mengganti penyebab kesusahan keuangan dengan faktor luar tanpa mengevaluasi cara menghabiskan uang sendiri justru akan menyebabkan seseorang tetap berada di tengah permasalahan yang sama.

Dr. Kristen Fuller menyampaikan bahwa akuntabilitas berarti mengambil tanggung jawab terhadap perbuatan seseorang serta memisahkan hal tersebut dengan rasa malu yang bersifat negatif.

6. Khawatir dalam belajar tentang literasi finansial

Rasa takut akan ketidakpastian terkait keuangan membuat seseorang enggan belajar keterampilan manajemen keuangan yang sebenarnya dapat dipelajari dengan mudah.

Menetapkan tujuan-tujuan kecil yang dapat diatur merupakan metode terbaik dalam menghadapi ketakutan serta mencapai kemenangan-kemenangan kecil yang meningkatkan keyakinan diri secara finansial.

7. Mempercayai kekayaan sebagai bukti harga diri

Jika seseorang kurang percaya pada harga dirinya sendiri, mereka sering kali memakai barang mewah untuk menunjukkan secara luaran bahwa mereka bernilai dan berhasil.

Satu penelitian di Jurnal Penelitian Kepribadian menyebutkan bahwa individu yang lebih memilih menggunakan uang mereka untuk pembelian barang dibandingkan pengalaman sering kali merasakan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dalam kehidupannya.

8. Selalu mengukur kemampuan dan keberhasilan diri dibandingkan dengan orang lain

Pemimpin perusahaan YourTango, Andrea Miller mengungkapkan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain membuat seseorang terjebak dalam rasa ketidakpuasan akibat fokus berkelanjutan pada hal-hal yang belum dimilikinya.

Mengembangkan rasa terima kasih merupakan metode yang paling ampuh untuk mengatasi budaya kompetisi, karena saat seseorang benar-benar bersyukur, hampir mustahil merasa kekurangan pada waktu yang sama.

9. Menganggap kekayaan sebagai tanda dari keberhasilan dalam hidup

Menyebutkan kesuksesan hanya berdasarkan besarnya jumlah uang membuat seseorang lebih fokus pada pengeluaran agar tampak kaya dibandingkan secara nyata membangun kelimpahan dalam jangka panjang.

Banyak orang yang memandang kesejahteraan sebagai ukuran utama keberhasilan cenderung lebih menilai nominal uang dalam rekening bank dibandingkan pada hubungan penting serta pengalaman hidup yang benar-benar membawa kedamaian.

10. Sulit memisahkan perasaan dengan keputusan dalam menghabiskan uang

Pelatih keuangan Pegi Burdick mengungkapkan bahwa pola pengeluaran seseorang dipengaruhi oleh permasalahan masa kanak-kanak, termasuk pesan bawah sadar yang menyebabkan merasa tidak pantas menerima sesuatu yang baik.

Mengisolasi tindakan dari perasaan memungkinkan seseorang untuk memiliki kendali nyata terhadap pengeluaran yang sebelumnya dipicu oleh luka hati yang masih terbentuk.

11. Menempatkan kenyamanan di atas pengendalian yang sengaja dilakukan

Memilih kemudahan seketika seperti selalu memesan makanan atau menggunakan layanan ojek online tampaknya kecil pada awalnya tetapi secara bertahap berubah menjadi pengeluaran besar yang tidak kita sadari.

Semangat dalam membelanjakan uang guna mendapatkan kenyamanan secara bertahap berubah menjadi kebiasaan yang alami, membuatnya semakin sulit bagi seseorang untuk menyadari pengaruh aktual terhadap situasi keuangan jangka panjang.

Posting Komentar

0 Komentar