Ringkasan Berita:
- Pertukaran serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berlangsung saat pembicaraan perdamaian kedua pihak mengalami kemacetan.
- Berdasarkan kejadian itu, harga minyak mentah global merk Brent dikabarkan naik signifikan melebihi angka $97 per barel dalam perdagangan hari Rabu (3/6/2026).
- Berdasarkan informasi terkini mengenai perdagangan komoditas, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman bulan Agustus tahun 2026 naik sebanyak 1,07 persen menjadi mencapai harga $97,11 per barel.
ANTS Amerika Serikat (AS) serta Iran dikabarkan melakukan balasan terhadap serangan masing-masing.
Penganiayaan awal terjadi saat pesawat tempur Amerika Serikat melepaskan roket Hellfire ke sebuah kapal tangki yang berkaitan dengan Iran di sekitar Selat Hormuz pada hari Selasa (2 Juni 2026) malam.
Washington menyebut bahwa kapal tanki M/T Lexie dengan bendera Botswana tengah dalam perjalanan ke Pulau Kharg, melakukan pelanggaran terhadap pembatasan yang dijatuhkan secara mandiri.
Dalam responsnya, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan balasan terhadap aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.
Mengutip RT IRGC menyebut bahwa mereka meluncurkan roket maritim untuk menyerang sebuah kapal yang diperkirakan terkait dengan Amerika Serikat, yaitu Panaya.
Tidak sampai di sana, Amerika Serikat kemudian sepertinya melanjutkan serangan terhadap menara komunikasi milik Pasukan Garda Revolusioner Iran.
Pihak Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa serangan itu merupakan tindakan pembelaan diri terhadap pangkalan militer Iran yang berada di Kepulauan Qeshm.
Pasukan Garda Revolusioner Iran (IRGC) selanjutnya memperbesar ketegangan melalui serangan roket balistik terhadap basis udara serta helikopter militer Amerika Serikat di suatu negara regional.
Selain itu, IRGC mengklaim bahwa mereka melakukan serangan terhadap markas komando Angkatan Laut Kelima di Bahrain.
Kementerian Pertahanan Amerika Serikat menyatakan bahwa seluruh rudal Iran tidak berhasil menjangkau targetnya.
Dua peluru kendali yang ditembakkan ke Kuwait disebutkan tidak mengenai targetnya atau rusak sebelum sampai tujuan, sedangkan tiga roket yang dilepaskan menuju Bahrain berhasil ditangkis oleh pasukan pertahanan udara Amerika Serikat dan Bahrain.
Kemudian, pasukan Kuwait menyatakan bahwa mereka merespons serangan roket dan pesawat tanpa awak.
Banyak video yang beredarkan di internet disinyalir memperlihatkan kegiatan sistem pertahanan udara pada malam hari, termasuk sejumlah pesawat tempur yang terlihat melenceng dari rute mereka lalu menghancurkan diri di permukaan bumi.
Duabelas jam setelahnya, tentara Amerika menyatakan bahwa mereka berhasil menembak jatuh serangan tambahan pesawat tanpa awak dari Iran dan memastikan tidak ada anggota pasukan maupun aset Amerika yang cedera.
Harga Minyak Brent Melonjak
Berdasarkan respons terhadap serangan timbal balik, harga minyak mentah dunia dengan varietas Brent dikabarkan meningkat drastis melebihi level $97 per galon dalam perdagangan hari Rabu (3/6/2026).
Peningkatan ini mengangkat harga minyak ke tingkat tertinggi dalam beberapa minggu terakhir, dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan militer yang semakin memburuk antara Amerika Serikat dan Iran di wilayah Teluk Persia.
Mengutip WANA Berdasarkan data perdagangan komoditas terkini, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman bulan Agustus 2026 naik sebanyak 1,07 persen menjadi mencapai level US$97,11 per barel.
Peningkatan ini mencerminkan ketakutan mendalam dari para pedagang dan investor internasional mengenai keselamatan Laut Hormuz, yang merupakan jalur transportasi dan pusat distribusi energi penting bagi dunia.
Ahli-ahli energi global mengingatkan bahwa kawasan Teluk Persia sangat rentan terhadap perubahan dan ancaman.
Setiap pertikaian senjata yang membahayakan keamanan kapal pengangkut barang akan segera memicu kenaikan harga minyak mendadak di pasar London dan New York.
Pasar saat ini lebih rentan terhadap masalah gangguan pasokan.
Selat Hormuz menyediakan sekitar 20% dari penggunaan minyak global dalam sehari.
"Bila jalur distribusi ini mengalami gangguan karena bentrokan berskala luas, fluktuasi harga energi di pasar dunia tidak saja bertambah tinggi, namun juga dapat menyebabkan krisis suplai energi yang baru," ujar seorang analis pasar komoditi.
Di pihak lain, kondisi sulit ini menyebabkan para investor internasional memindahkan dana mereka ke aset-aset yang dianggap lebih stabil dan terjamin.
Perusahaan besar penghasil energi kini harus mengubah pola distribusi barang serta menyadari naiknya biaya asuransi laut yang pasti meningkat karena wilayah Teluk Persia berada di area rawan militer.
Bila perseteruan senjata antara Washington dan Tehran belum segera diselesaikan melalui jalan diplomatik, prediksi harga minyak global dapat meningkat secara cepat mencapai tingkat psikologis $100 sampai $110 per barel.
Keadaan ini jelas merupakan tanda negatif bagi ekonomi dunia yang sedang berusaha menghadapi tekanan kenaikan harga.
Untuk negara-negara yang mengimpor minyak bersih, seperti Indonesia, kenaikan harga minyak melewati perkiraan dasar dapat menyebabkan peningkatan beban subsidi BBM dalam negeri dan memperbesar defisit neraca perdagangan.
(ANTS/Whiesa)
0 Komentar