Seorang pengawal damai yang tugasnya berada dalam pasukan sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon ( UNIFIL ) meninggal dunia dan dua orang lainnya luka-luka setelah meriam menyerang posisinya di Libanon Selatan, pernyataan misi itu pada hari Jumat tanggal 5 Mei 2027.
Dalam sebuah pernyataan yang dikutip Anadolu UNIFIL menyampaikan bahwa para perwira damai yang tidak diketahui kebangsaannya menderita cedera parah "karena mortar meledak di sekitar posnya dekat Marjayoun, bagian selatan Libanon" pada malam hari.
Personel penjaga perdamaian yang cedera dievakuasi dengan pesawat ke sebuah rumah sakit di Beirut dan selanjutnya meninggal akibat lukanya yang sangat serius.
Misi itu menyebutkan bahwa dua petugas keamanan lainnya juga cedera akibat peristiwa tersebut dan saat ini mendapatkan pengobatan di unit kesehatan yang ada di basis UNIFIL.
Anggota pasukan perdamaian menyampaikan bahwa mereka sedang melakukan investigasi "untuk mengetahui kondisi spesifik yang menjadi penyebab peristiwa mengerikan ini."
"UNIFIL telah mengamati kenaikan jumlah jalur serta dampak di wilayah selatan Lebanon. Kekerasan perlu segera berakhir," demikian pernyataan misi tersebut.
Sebelumnya, enam prajurit pasukan perdamaian PBB UNIFIL gugur di wilayah Selatan Lebanon saat terjadi kenaikan ketegangan antara bulan Maret dan April tahun 2026.
Pada tanggal 29 Maret 2026, tiga prajurit pengawal damai dari Indonesia meninggal dunia. Seorang korban tewas akibat ledakan proyektif yang terjadi di pos PBB dekat Adchit Al Qusayr. Investigasi sementara oleh PBB menyebutkan bahwa peristiwa tersebut dikaitkan dengan peluru meriam milik tentara Israel.
Esok hari berikutnya, dua unit pasukan pengawal perdamaian Indonesia lainnya gugur dan sejumlah lagi luka-luka akibat meledaknya kendaraan di dekat Bani Haiyyan, kejadian yang dikaitkan dengan Hizbullah.
Pada tanggal 18 April 2026, seorang tentara pengawal damai Perancis berpangkat Serda Florian Montorio meninggal dunia serta tiga orang lainnya cedera akibat tembakan langsung saat menjalani operasi pembersihan ranjau di desa Ghandouriyeh. UNIFIL dan pejabat Prancis menyatakan bahwa serangan tersebut diduga dilakukan oleh Hizbullah.
Pada tanggal 22 April 2026, Perancis menyatakan kematian dua anggota militer mereka akibat serangan yang terjadi di wilayah Selatan Lebanon dan menyerang pasukan PBB UNIFIL.
"Anicet Girardin meninggal pagi ini karena cedera yang dialaminya. Dia gugur demi Perancis," ujar Presiden Emmanuel Macron dalam pesan yang dirilis di media sosial X.
Gencatan Senjata Israel-Libanon
Seperti dilaporkan Libnanews , pengumuman ini muncul dalam waktu yang paling rentan: beberapa jam setelah pernyataan gencatan senjata terbatas antara Lebanon dan Israel, sementara misi Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat angka lalu lintas serta dampak yang sangat besar di wilayah selatan.
Perjanjian yang diumumkan di Washington memaksakan Hizbullah agar mundur dari kawasan di sebelah selatan Sungai Litani. Hal ini memberikan kesempatan kepada Tentara Lebanon untuk menguasai sepenuhnya area tersebut.
Namun, kematian anggota pasukan pemelihara perdamaian PBB kemarin membuat masalah gencatan senjata berubah menjadi tantangan mendesak terkait kepercayaan diri.
Posisi yang terdampak di sekitar Marjayoun bukan merupakan lokasi kecil. Daerah selatan Lebanon tersebut berada di salah satu zona paling rawan dalam lingkup operasi UNIFIL. Letaknya sangat dekat dengan Garis Biru, wilayah perbatasan, jalur militer, serta area tempat pertempuran semakin memanas sejak konflik antara Israel dan Hizbullah kembali meledak.
Pernyataan pasukan PBB tidak menunjuk siapa saja yang bersalah. Pernyataan itu juga tidak menjelaskan apakah peluru tersebut datang dari Lebanon, Israel, atau wilayah konflik tengah.
Pernyataan tersebut juga tidak menjelaskan jenis tembakan, apakah merupakan tembakan lurus, tembakan yang diarahkan ke samping, atau dampak dari pertempuran senjata yang lebih besar. Kesabaran ini sangat krusial mengingat wilayah tersebut penuh dengan peluru, pesawat tak berawak, serangan-serangan, respons militer, serta pos-pos tentara.
Serangan udara dan darat yang dilakukan oleh Israel ke Lebanon bermula pada awal bulan Maret, setelah Hizbullah melakukan penyerangan terhadap negara itu sebagai bentuk pembalasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam operasi tiba-tiba Amerika Serikat-Israel pada akhir Februari. Perang ini berdampak pada meninggalnya lebih dari 3.200 jiwa serta memicu pengungsian lebih dari satu juta penduduk dari wilayah Selatan Lebanon.
0 Komentar