Editors Choice

3/recent/post-list

Pengikut

Akademisi USK Kecam Bentrokan Aparat dan Warga Saat Konvoi Bantuan di Aceh

Para akademisi Universitas Syiah Kuala mengecam bentrokan antara aparat dengan warga saat konvoi pendistribusian bantuan di Aceh.

News, BANDA ACEH – Para akademisi dari Universitas Syiah Kuala (USK) serta pakar politik Aceh, Dr Effendi Hasan MA, mengecam adanya peristiwa bentrokan antara personel TNI dengan warga saat distribusi bantuan kemanusiaan berlangsung pada hari Jumat (26/12/2025).

Kejadian itu terjadi ketika rombongan bantuan melaju dalam barisan dan mengibarkan bendera Aceh.

Pak Effendi menganggap kejadian bentrok tersebut semestinya bisa dihindari, apalagi dalam situasi darurat kemanusian yang memerlukan rasa solidaritas dan simpati antar sesama.

Dia menekankan bahwa dalam kondisi darurat, fokus utama semua pihak seharusnya adalah menjaga keamanan dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak, bukan berpegang pada interpretasi simbolis tertentu atau salah pengertian di lokasi kejadian.

Penyampaian bantuan kemanusiaan perlu dijadikan wilayah yang netral, terbebas dari konflik simbolis maupun prasangka politik,

"Jika bantuan bertransformasi menjadi medan persaingan, maka pihak yang merugi adalah para korban bencana tersebut," kata Dr Effendi kepada News ,  Jumat (26/12/2025).

Dekan Program Studi Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala menganggap bahwa pihak keamanan bertanggung jawab dalam memastikan ketenangan serta keselamatan, sedangkan warga juga berhak menyampaikan ekspresi budaya daerahnya selama dilakukan dengan cara yang tenang dan tidak merangsang perpecahan.

Karena itu, pendekatan persuasif serta komunikasi yang bersifat dialog perlu diprioritaskan, bukan tindakan pemberangkasan yang berisiko meningkatkan kesenjangan antara negara dengan masyarakat.

"Sebaiknya peristiwa perselisihan panjang di Aceh selama 32 tahun silam menjadi pelajaran berharga agar tidak terjadi lagi," katanya.

Tn. Effendi juga menegaskan bahwa Aceh mempunyai riwayat panjang yang memberikan pelajaran tentang betapa pentingnya kesadaran sosial serta kearifan tradisional dalam segala kebijakan maupun tindakan nyata di lapangan.

"Kita tidak boleh mengizinkan luka masa lalu muncul lagi hanya akibat kesalahpahaman serta kurangnya pendekatan yang bersifat manusiawi. Pemerintah perlu hadir sebagai penjaga, bukan sebagai pihak yang menciptakan ketakutan bagi rakyat yang sedang berduka," tegasnya.

Para akademisi dari USK menyatakan bahwa pendistribusian bantuan kemanusiaan seharusnya tidak dimasukkan ke dalam lingkaran persaingan politik atau tanda-tanda simbolis.

Anggota pemerintah, masyarakat adat, serta berbagai kelompok setempat harus bersikap sabar dan memprioritaskan prinsip keseimbangan, komunikasi yang saling mendengarkan, serta kesadaran akan sejarah Aceh.

Di sini, negara diharapkan muncul melalui pendekatan yang meyakinkan serta didasarkan pada kebijaksanaan tradisional, bukan hanya fokus pada pendekatan ketertiban.

Di sisi lain, masyarakat sipil serta kelompok-kelompok setempat sebaiknya menghindari memberikan kesempatan terjadinya penggunaan simbol-simbol yang memiliki makna ganda dan bisa memicu meningkatnya persaingan antar komunitas.

Nanggroe Aceh sudah menghadapi biaya yang sangat besar karena perpecahan pada masa lampau.

Oleh karena itu, segala tanda usaha memperkuat perpecahan melalui simbol-simbol tertentu, narasi antara kalangan elite dan masyarakat umum, atau penggunaan bencana untuk tujuan politik, seharusnya ditangani dengan sikap dewasa dalam bidang politik serta pemikiran yang jelas dan bersama-sama.

Pusat perhatian saat ini, menurut Dr Effendi, adalah tentang kemanusiaan, bukan persaingan dalam memahami identitas.

Dia menyarankan dilakukannya evaluasi mandiri serta kerja sama yang terkoordinasi antar berbagai pihak, termasuk instansi keamanan, pemerintah setempat, dan komunitas warga sipil, sehingga pendistribusian bantuan di masa mendatang bisa berjalan lebih teratur, aman, dan mematuhi norma kesopanan.

Oleh karena itu, Dr Effendi mengimbau seluruh komponen masyarakat Aceh agar tetap tenang, menjaga kedamaian, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang bisa menyebabkan perpecahan.

"Sekarang bukan saatnya saling menyalah. Konsentrasi kami harus seragam, yaitu menyelamatkan manusia, membangun kembali kehidupan, serta menjaga Aceh tetap aman. Mari kita bersama-sama merawat Aceh demi kepentingan kita semua," tuturnya.

(News/Agus Ramadhan)

Lihat dan Ikuti Informasi dari Google News

Silakan bergabung dengan kami melalui saluran berita WhatsApp Ikuti kami di saluran WhatsApp untuk mendapatkan update terbaru Kunjungi saluran WhatsApp kami dan jangan ketinggalan informasi penting Gabungkan diri Anda ke dalam saluran berita WhatsApp kami Akses saluran WhatsApp news bersama kami untuk pembaruan terkini

Posting Komentar

0 Komentar